
Wama al-ladzdzatu illâ ba’da at-ta’abi, begitulah bunyi pepatah Arab. Dalam arti bebas “Kenikmatan itu hanya akan dapat kita peroleh ketika sudah bekerja keras.” Jadi, Tidak mungkin kenikmatan itu datang dengan sendirinya, tanpa diiringi dengan sebuah kerja keras. Lain halnya dengan orang yang sudah senang hidupnya disebabkan dari garis keturunan. Pepatah Arab ini tak berlaku lagi bagi orang yang demikian.
Pepatah Arab itulah yang dipegang teguh oleh Pak Soleh. Pak Soleh begitulah beliau biasa disapa. Aktifitas Pak Soleh setiap hari adalah menjual soto miliknya. Kegiatan tersebut sudah ia lakoni semenjak usia muda, dan hingga saat ini warung sotonya semakin ramai diburu pembeli. Apa yang Pak Soleh alami saat ini tidak serta-merta datang begitu saja. Butuh waktu dan proses yang sangat panjang, rupanya sudah 30 tahun lamanya Pak Soleh menekuni usaha ini.
Walaupun saat ini sudah memiliki cabang dimana-mana, Pak Soleh setiap hari selalu melayani pembelinya secara langsung, ia tidak pernah memiliki keinginan untuk meninggalkan aktivitas yang sudah lama ia tekuni. Bagi Pak Soleh bejualan soto merupakan hal yang menyenangkan, jadi dari dahulu hingga sekarang ia tak pernah merasa bosan.
Berjualan soto ternyata mampu mengantarkan Pak Soleh dan isterinya berangkat ke tanah suci; Mekkah untuk menyempurnakan rukun Islam yang terakhir. Bahkan Pak Soleh juga mampu membiayai anak-anaknya sekolah keperguruan tingi hingga selesai dari hasil jualan sotonya. Ya, kuncinya satu yaitu bekerja dengan cinta, dengan cintalah semuanya terasa nikmat dan membuat diri kita semangat.
Lain halnya dengan kisah pelatih sepak bola dan pendonor ginjal. Suatu ketika seorang pelatih sepak bola divonis oleh dokter dengan penyakit gagal ginjal. Pelatih sepak bola tersebut merasa seperti kehilangan gairah untuk hidup, karena tidak bisa berharap banyak dengan penyakitnya. Ia sempat berpikir, siapa yang mau mendonorkan ginjalnya untuk dirinya?
Tanpa disangka, ternyata ia mendapat donor ginjal dari salah seseorang yang mengaku bahwa ia suka dan tertarik dengan karakter pelatih tersebut. Tak hanya itu, pendonor ginjal pun mengatakan bahwa ia ingin memberikan manfaat hidup bagi orang banyak. Melalui donor ginjalnya ia ingin memberikan lebih banyak manfaat bagi orang lain.
Lain halnya lagi dengan kisah seorang ibu dan anaknya. Anak itu memiliki kaki dan tangan cacat semenjak lahir, tak hanya itu ia juga mengalami keterbelakangan mental. Nama penyakit yang ia derita adalah Lobster Claw Syindrom, tangannya hanya memiliki dua jari yang menyerupai kepiting dan kakinya pun hanya sebatas lutut.
Orang tua mana yang tidak pilu menyaksikan anaknya lahir dalam keadaan cacat seperti ini. Setiap orang tua pasti mengidamkan anaknya lahir sehat dan normal, apa jadinya jika ternyata yang anak yang dilahirkan dalam keadaan tidak normal. Itulah kehidupan, kadang terjadi di luar keinginan manusia. Tetapi disinilah peran orang tua yang menjadi penentu, apakah akan putus asa, mengeluh, dan menyalahkan Sang Pencipta.
Tidak dengan ibu yang satu ini, meski anaknya lahir dalam keadaan yang serba kurang secara fisik, ia tetap optimis, sabar, dan tabah dalam mendidik dan membesarkannya. Sang suami hanya seorang pensiunan perusahaan dan telah tiada, saat itu sang anak masih kecil. Walaupun demikian ia tidak menyerah, terus berusaha dengan maksimal dan tiada henti untuk membesarkan anak sematawayangnya itu.
Saat itulah sang ibu mendidiknya dengan penuh kesabaran. Ia didik anaknya dengan kemandirian, percaya diri, dan keterampilan hidup sehari-hari. Walaupun dengan segala keterbatasan, anak itu akhirnya tumbuh menjadi gadis kecil yang mandiri. Disanala ia menemukan jalan hidupnya dan merubah dirinya.
Berawal dari saran seorang trapis untuk bermain piano supaya melatih motorik tangan dan kakinya. Selain itu, bermain musik juga dapat menumbuhkan kecerdasan musikal yang merupakan kelebihan dirinya. Dengan penuh kesabaran sang ibu, akhirnya gadis kecil itu terbiasa memainkannya walaupun hanya dengan empat jari. Setelah berlatih bertahun-tahun akhirnya ia mulai tampil dalam berbagai konser dan tour ke berbagai negara.
Akhirnya, sang anak yang dulu divonis cacat ternyata dapat kembali bangkit dan membuktikan bahwa semua usaha itu akan mendapatkan balasan yang setimpal. Ia sadar bahwa ia bisa menjadi seperti ini berkat dari perjuangan sang ibu yang setia dan begitu sabar merawat dan mendidiknya. Sang ibu pun kini bangga padanya, karena ia sudah menjadi anak yang mandiri dan bermanfaat bagi orang lain.